Kamis, 22 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
789betchoi.com789betchoi.com
789betchoi.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Pulang Kerja Lihat Meteran Listrik, Kakek Ini Sada...

Pulang Kerja Lihat Meteran Listrik, Kakek Ini Sadar Sesuatu

Cerita seorang pensiunan yang iseng cek meteran tiap sore, lalu menemukan kebiasaan kecil yang bikin tagihan listrik membengkak.

Pulang Kerja Lihat Meteran Listrik, Kakek Ini Sadar Sesuatu

Pak Harjo, tetangga saya di perumahan ujung gang, punya kebiasaan yang awalnya saya anggap aneh. Tiap sore sekitar jam lima, sambil bawa gelas teh, dia keliling rumah cuma buat lihat angka di meteran listrik. Saya kira dia cuma iseng. Ternyata kebiasaan itu yang bikin dia sadar sesuatu yang selama puluhan tahun luput dari perhatian.

"Saya pensiunan, Mbak. Waktu masih kerja, tagihan listrik tinggal bayar, nggak pernah saya tanya kenapa segitu," ceritanya suatu hari. "Sekarang uangnya terbatas, jadi saya mulai penasaran."

Baca juga: Kenapa Rumah Sering Ditinggal Tetap Bisa Boros Listrik?

Dari kebiasaan kecil itu, dia menemukan beberapa hal yang ternyata bukan cuma soal listrik. Ini cerita lengkapnya, plus hal-hal praktis yang bisa kamu tiru kalau kamu juga sudah masuk masa pensiun atau punya orang tua di rumah yang pengin lebih hemat.

Angka di Meteran Itu Ternyata Bercerita

Pak Harjo mulai mencatat angka meteran tiap sore di buku tulis kecil. Nggak ribet, cuma tulis tanggal dan angka. Setelah dua minggu, dia baru sadar polanya.

Baca Juga: syairdewaseribu.com

Hari-hari biasa, angka meteran naik sekitar 3-4 kWh sehari. Tapi tiap Sabtu-Minggu, angkanya melonjak jadi 6-7 kWh. Padahal dia dan istrinya di rumah terus, nggak ada tamu, nggak ada acara. Kok bisa?

Ternyata jawabannya sederhana: cucu-cucunya main ke rumah tiap akhir pekan. TV nyala dari pagi, kipas angin di kamar tamu nyala seharian, dan setrika dipakai buat nyetrika seragam sekolah yang numpuk. Bukan salah siapa-siapa, cuma memang pemakaiannya naik.

Yang bikin dia kaget justru hari Selasa. Angka meteran naik 5 kWh padahal rumah sepi. Dari situ dia mulai investigasi sendiri, keliling rumah sambil lihat apa yang masih nyala.

Pelakunya: barang-barang yang "diam-diam kerja"

Pak Harjo menemukan beberapa barang yang tetap makan listrik walau kelihatannya sudah mati. Ada charger HP yang masih nyolok di dinding meski HP-nya sudah penuh. Ada rice cooker yang mode warm-nya nyala terus sejak pagi. Ada juga dispenser air panas yang memang selalu standby.

"Kecil-kecil, tapi kalau dijumlah sebulan, lumayan juga," katanya sambil ketawa. Dia hitung kasar, charger dan rice cooker mode warm itu bisa nyumbang sekitar 10-15 kWh sebulan. Kalau tarifnya Rp1.500 per kWh, ya sekitar Rp20 ribuan. Nggak besar, tapi buat pensiunan yang ngitung tiap rupiah, itu berarti.

"Yang mahal itu bukan listriknya. Yang mahal itu kebiasaan nggak sadar." — Pak Harjo, pensiunan guru SD

Bukan Cuma Listrik, Barangnya Juga Jadi Cepat Rusak

Nah, ini bagian yang menurut saya paling menarik. Waktu Pak Harjo mulai rajin mencabut charger dan mematikan rice cooker setelah nasi matang, dia sadar sesuatu yang lain: barang-barangnya jadi lebih awet.

Charger HP yang dulu sering rusak karena panas, sekarang nggak pernah bermasalah lagi. Rice cooker yang dulu bagian dalamnya cepat menguning, sekarang masih kinclong setelah dipakai tiga tahun. Dispenser air yang dulu sering bocor di bagian pemanas, sekarang aman.

Logikanya sederhana. Barang elektronik yang terus-terusan dialiri listrik itu komponennya kerja terus, panas terus. Panas berlebih bikin umur komponen pendek. Jadi dengan mematikan barang saat nggak dipakai, kamu bukan cuma hemat listrik, tapi juga memperpanjang umur barangnya. Dua-duanya hemat duit.

Ini yang sering luput dari tips hemat energi kebanyakan. Orang fokus ke tagihan listrik, padahal penghematan dari barang yang awet juga nggak kecil. Ganti rice cooker bagus itu bisa Rp400-500 ribu. Kalau bisa dipakai 5 tahun bukan 3 tahun, itu tabungan nyata.

Kebiasaan Kecil yang Pak Harjo Lakukan Sekarang

Setelah setahun menjalani "proyek meteran" ini, Pak Harjo punya beberapa rutinitas yang menurut saya masuk akal dan nggak bikin repot. Cocok buat pensiunan yang punya waktu lebih di rumah, tapi tetap nggak mau ribet.

  • Cek meteran tiap sore. Cuma butuh 30 detik. Tapi dari situ kamu tahu kalau ada yang aneh. Kalau tiba-tiba naik drastis padahal pemakaian biasa, berarti ada barang yang lupa dimatikan atau mulai rusak.
  • Cabut charger setelah selesai. Simpel, tapi dampaknya nyata. Pak Harjo sekarang taruh charger di satu tempat khusus, dan cabut tiap kali selesai ngecas.
  • Matikan rice cooker setelah nasi matang. Kalau mau nasi tetap hangat, pindahkan ke termos nasi. Lebih hemat dan nasi nggak cepat kering.
  • Bersihkan filter AC tiap bulan. Ini yang bikin Pak Harjo kaget. Filter AC yang kotor bikin AC kerja lebih berat, listrik naik, dan AC cepat rusak. Cuma butuh 10 menit cuci filter, tapi hematnya lumayan.
  • Cabut setrika setelah dipakai. Setrika itu salah satu barang paling boros kalau lupa dicabut. Pak Harjo sekarang punya kebiasaan cabut setrika langsung setelah selesai, sebelum dilipat.

Soal AC, ada catatan tambahan

Pak Harjo sempat mau servis AC tiap bulan karena dengar-dengar itu bikin hemat. Tapi setelah dihitung, ternyata nggak masuk akal. Servis AC bulanan itu biayanya Rp75-100 ribu. Sementara penghematan listrik dari AC yang bersih itu cuma sekitar Rp30-50 ribu sebulan. Jadi dia pilih bersihkan filter sendiri tiap bulan, dan servis besar (cuci evaporator, cek freon) setahun sekali saja.

Ini contoh bagus bahwa hemat energi itu bukan soal ikut-ikutan tips, tapi soal ngitung. Kadang yang katanya "bikin hemat" malah bikin boncos kalau nggak dihitung matang-matang.

Yang Paling Berkesan Buat Saya

Dari cerita Pak Harjo, ada satu hal yang saya bawa pulang. Hemat energi itu bukan soal pelit atau susah. Ini soal sadar. Sadar bahwa barang-barang di rumah kita itu punya "napas" masing-masing, dan kalau kita rawat dengan benar, mereka balas dengan umur panjang dan tagihan yang lebih ringan.

Buat kamu yang sudah pensiun atau punya orang tua di rumah, mungkin bisa mulai dari hal paling sederhana: catat meteran tiap sore selama dua minggu. Nggak perlu alat canggih, nggak perlu aplikasi. Cukup buku tulis dan pulpen. Dari situ kamu akan lihat pola yang mungkin selama ini nggak kelihatan.

Siapa tahu, seperti Pak Harjo, kamu juga menemukan sesuatu yang bikin kamu bilang, "Lho, kok baru sadar sekarang?"

Dan kalau kamu punya cerita serupa soal meteran listrik atau barang rumah yang tiba-tiba jadi lebih awet setelah dirawat, boleh banget dibagi. Kadang cerita tetangga itu lebih ngena daripada artikel tips mana pun.

Tags: hemat energi rumah tangga perawatan barang pensiunan meteran listrik